Kamis, 03 April 2014

Pembelajaran Konvensional

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, konvensional artinya berdasarkan konvensi/ kesepakatan umum seperti adat istiadat, kebiasaan, kelaziman. Jadi pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang biasa dilakukan oleh guru dan sudah merupakan suatu cara yang lazim sejak dahulu. Menurut Darhim (2002) pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang masih mengutamakan metode ceramah atau ekspositori. Pembelajaran matematika masih cenderung lebih terpusat pada guru.
Pada pembelajaran konvensional siswa cenderung pasif, karena aktivitas belajar mengajar berpusat kepada guru. Kegiatan pasif yang dilakukan siswa akan menjadikan siswa kurang memahami konsep matematika karena mereka tidak melakukan kegiatan penemuan dalam pembelajaran matematika. Proses berpikir matematispun akan sulit dikembangkan karena siswa menerima pengetahuan dari guru.
Kholik (dalam Amelia 2013: 14) menerangkan bahwa secara umum cirri-ciri pembelajaran konvensional adalah:
a.       Siswa adalah penerima informasi secara pasif, dimana siswa menerima pengetahuan dari guru dan pengetahuan diasumsikan sebagai badan dari informasi dan keterampilan yang dimiliki sesuai standar.
b.      Belajar secara individual.
c.       Pembelajaran secara abstrak dan teoritis.
d.      Kebenaran bersifat absolut dan pengetahuan bersifat final.
e.       Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.
f.       Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik.
g.      Interaksi di antara siswa kurang.
h.      Guru sering bertindak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar.
Adapun langkah-langkah pembelajaran menggunakan metode konvensional adalah sebagai berikut (Rohimah: 2012):
1)      guru memberikan apersepsi terhadap siswa dan memberikan motivasi kepada siswa tentang materi yang diajarkan,
2)      guru menerangkan bahan ajar secara verbal,
3)      guru memberikan contoh-contoh,
4)      guru memberikan kesempatan untuk siswa bertanya dan menjawab pertanyaannya,
5)      guru memberikan tugas kepada siswa yang sesuai dengan materi dan contoh soal yang diberikan,
6)      guru mengkonfirmasi tugas yang telah dikerjakan oleh siswa,
7)      guru menuntun siswa untuk menyimpulkan inti pelajaran.
Daftar Pustaka:
Amelia, A. (2013). Peningkatan Kemampuan Representasi Matematis Siswa SMP Melalui Penerapan Pendekatan Metakognitif. Skripsi: tidak diterbitkan.
Darhim. (2002). Pengaruh Pembelajaran Matematika Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar Kelas Awal. Bandung: FPMIPA UPI
Rohimah, Siti Maryam. 2012. Metode Ceramah dalam Pembelajaran [On-line]. Tersedia: http://www.rofayuliaazhar.com/2012/06/metode-ceramah-dalam-pembelajaran.html  [21 Maret 2014]